Kegiatan

Yayasan Lentera Dorong KDS Solo Raya Naik Kelas Jadi Kekuatan Pendampingan ODHIV

29 Juli 2026
Putri Rakhmadhani
7 menit baca
Kegiatan Penguatan Kelompok Dukungan Sebaya ODHIV di Solo Paragon Hotel
Surakarta, 29 Juli 2026 — Pendampingan Orang dengan HIV atau ODHIV tidak cukup berhenti pada niat baik. Ia membutuhkan data yang rapi, jejaring yang hidup, rujukan layanan yang jelas, dan komunitas yang mampu berdiri lebih mandiri.

Semangat itu menjadi inti kegiatan Penguatan Kelompok Dukungan Sebaya Orang dengan HIV AIDS yang diselenggarakan Yayasan Lentera Surakarta di Solo Paragon Hotel, Surakarta. Kegiatan ini mempertemukan perwakilan Kelompok Dukungan Sebaya atau KDS dari berbagai wilayah Solo Raya bersama Yayasan Lentera, fasilitator, dan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta.

Sebanyak 25 peserta hadir dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari KDS Solo Plus, Gajah Mungkur Wonogiri, Yasema Sukoharjo, SPASI Sragen, Karanganyar Peduli, Mekarwangi Klaten, Merbabu Boyolali, Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso, fasilitator, dan staf Yayasan Lentera.

Perwakilan KDS dari berbagai wilayah Solo Raya mengikuti kegiatan penguatan kapasitas

Menguatkan Kapasitas, Merapikan Jalan Rujukan

Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus konsolidasi untuk meningkatkan kapasitas KDS dalam mendampingi ODHIV. Fokusnya bukan hanya pada dukungan sebaya, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan klien dengan layanan kesehatan, layanan rehabilitasi sosial, dan dukungan sosial-ekonomi.

Salah satu materi utama yang dibahas adalah pengenalan form asesmen terpadu dalam format Excel atau BNBA, yaitu by name by address. Form ini digunakan untuk mendokumentasikan identitas, kondisi fisik dan psikologis, tanggungan keluarga, layanan yang sudah diterima, kebutuhan bantuan, hingga rekomendasi layanan bagi penerima manfaat.

Data yang terkumpul melalui asesmen terpadu tersebut dapat diintegrasikan dengan sistem pusat sehingga proses rujukan dan pengajuan layanan berjalan lebih terstruktur. Dengan pendataan yang lebih baik, pendamping KDS dapat membantu memastikan kebutuhan ODHIV terbaca secara lebih utuh dan tidak berhenti sebagai cerita lapangan yang tercecer.

Peserta mempelajari form asesmen terpadu dan mekanisme rujukan layanan

Mengenal Mekanisme Respon Kasus Kemensos

Selain penguatan asesmen, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai mekanisme Respon Kasus Kementerian Sosial. Melalui mekanisme ini, kasus sosial yang membutuhkan penanganan dapat dirujuk melalui beberapa jalur, antara lain layanan 171, media sosial, maupun surat resmi dari Dinas Sosial atau pemerintah setempat.

Setelah laporan diterima, Sentra Terpadu akan melakukan verifikasi, asesmen, telaah, dan menentukan bentuk layanan berdasarkan kondisi serta kebutuhan penerima manfaat.

Pemahaman ini penting bagi pendamping KDS karena persoalan yang dihadapi ODHIV kerap kali tidak tunggal. Persoalan kesehatan dapat berkelindan dengan kesulitan ekonomi, ketiadaan tempat tinggal, stigma, keterbatasan dukungan keluarga, hingga akses layanan yang tidak merata.

Bantuan Harus Tepat Sasaran, Data Harus Kuat

Dalam workshop ini, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya memahami desil kesejahteraan dalam proses pengajuan bantuan. Penerima manfaat pada desil 1–2 menjadi prioritas, sementara pengajuan bagi penerima pada desil yang lebih tinggi tetap dapat dipertimbangkan apabila didukung data tambahan.

Data pendukung tersebut dapat berupa Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM, verifikasi dari Dinas Sosial atau kelurahan, serta penjelasan mengenai kondisi sosial-ekonomi penerima manfaat.

Dengan pemahaman ini, KDS diharapkan mampu menyusun usulan bantuan secara lebih tepat, berbasis kebutuhan nyata, dan didukung dokumen yang memadai. Pendampingan tidak hanya hadir dalam bentuk kepedulian, tetapi juga dalam kemampuan membaca sistem dan menghubungkan ODHIV dengan layanan yang sesuai.

Yunus Prasetyo: KDS Perlu Naik Kelas

Dalam arahannya, Ir. Yunus Prasetyo, Direktur Yayasan Lentera Surakarta, menekankan bahwa penguatan KDS tidak cukup berhenti pada peningkatan kapasitas individu. KDS perlu bergerak menuju organisasi yang lebih kuat, memiliki legalitas, struktur kepengurusan, dan program kerja yang jelas.

Menurut Yunus, penguatan kelompok dukungan perlu diarahkan agar mampu naik ke level Lembaga Kesejahteraan Sosial atau LKS. Dengan legalitas dan organisasi yang lebih jelas, komunitas dapat membangun kemitraan secara formal dengan pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya.

Pesan ini menjadi penting karena dukungan pendanaan eksternal memiliki batas waktu. Sementara itu, kebutuhan pendampingan ODHIV tidak berhenti ketika sebuah program selesai. Karena itu, KDS perlu mulai membangun kemandirian dan memperkuat hubungan dengan pemerintah daerah agar kebutuhan pendampingan ODHIV dapat terus memperoleh dukungan kebijakan maupun anggaran.

Ir. Yunus Prasetyo menyampaikan arahan penguatan KDS menuju Lembaga Kesejahteraan Sosial

Mengaktifkan Kembali Jejaring KDS Solo Raya

Diskusi dalam kegiatan ini juga menyoroti kebutuhan untuk mengaktifkan kembali jejaring KDS atau JKDS di wilayah Solo Raya. Jejaring antarkabupaten dinilai penting untuk menjaga komunikasi, pertukaran informasi, rujukan kasus, dan dukungan sebaya agar berjalan secara berkelanjutan.

Beberapa bentuk kegiatan seperti anjang sana, silaturahmi, pertemuan rutin, hingga pertemuan akbar atau jambore diusulkan sebagai ruang untuk mempertemukan kembali pengurus KDS dan membangun kesepakatan bersama.

Penguatan jejaring tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi komunitas untuk meningkatkan kemampuan pendampingan sekaligus memperjuangkan akses layanan bagi ODHIV. Dengan jejaring yang hidup, setiap KDS tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menopang dalam menghadapi tantangan di lapangan.

Peserta berdiskusi untuk mengaktifkan kembali jejaring KDS Solo Raya

Tantangan ODHIV Masih Berlapis

Dalam diskusi, peserta juga mengidentifikasi berbagai tantangan yang masih dihadapi ODHIV. Tantangan tersebut antara lain stigma dan diskriminasi, ketidakmerataan akses rehabilitasi sosial, kendala transportasi, keterbatasan informasi mengenai layanan, serta persoalan ketersediaan obat dan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pendampingan ODHIV membutuhkan kerja bersama antara komunitas, layanan kesehatan, pemerintah, dan lembaga rehabilitasi sosial. Tidak ada satu pihak yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendirian.

KDS memiliki posisi penting karena berada paling dekat dengan pengalaman ODHIV. Mereka memahami bahasa komunitas, mengenali hambatan yang sering tidak terlihat, dan dapat menjadi jembatan antara kebutuhan warga dengan sistem layanan yang tersedia.

Menuju Sistem Pendampingan yang Lebih Terintegrasi

Kegiatan ini menghasilkan sejumlah kesepahaman penting. Di antaranya perlunya memperkuat sistem rujukan antara layanan kesehatan dan rehabilitasi sosial, meningkatkan kapasitas pendamping, melakukan pemutakhiran data, serta mengembangkan strategi keberlanjutan program setelah berkurangnya dukungan pendanaan eksternal.

Yayasan Lentera Surakarta juga mendorong penguatan jejaring KDS Solo Raya melalui forum bersama yang dapat menjadi ruang konsolidasi pengurus, penyusunan agenda bersama, serta penguatan mekanisme tindak lanjut bagi ODHIV yang mengalami Lost to Follow Up atau LTFU.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Lentera Surakarta menegaskan komitmennya untuk terus mendukung KDS sebagai kekuatan komunitas. KDS diharapkan mampu memastikan ODHIV tetap terhubung dengan layanan kesehatan, rehabilitasi sosial, dan dukungan sebaya.

Penguatan organisasi, kolaborasi lintas sektor, dan kemandirian komunitas menjadi langkah penting agar pendampingan ODHIV tidak berhenti ketika sebuah program berakhir. Ia harus terus tumbuh menjadi gerakan komunitas yang berkelanjutan di Solo Raya.