Kegiatan

Yayasan Lentera dan AHF Perkuat Linkage Layanan HIV Lintas Sektor di Surakarta

22 April 2026
Putri Rakhmadhani
5 menit baca
AIDS Healthcare
                            Foundation (AHF)
Surakarta, 22 April 2026 – Yayasan Lentera Surakarta dengan dukungan AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia menyelenggarakan Workshop Linkage Dukungan Mitigasi Dampak bagi Orang dengan HIV (ODHIV) pada Rabu, 22 April 2026 di Solo Paragon Hotel & Residences, Surakarta.
Yayasan Lentera menyelenggarakan kegiatan sosialisasi

Kegiatan ini mempertemukan berbagai pihak yang memiliki peran penting dalam penanganan HIV, mulai dari layanan kesehatan, kelompok dukungan sebaya ODHIV, LSM pendamping, hingga layanan rehabilitasi sosial. Sebanyak 30 peserta hadir dalam workshop ini, terdiri dari perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, rumah sakit, puskesmas, kelompok dukungan sebaya, organisasi masyarakat sipil, serta pemangku kepentingan terkait lainnya.

Memperkuat Koordinasi Penanganan HIV

Workshop ini diselenggarakan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan antiretroviral atau ARV, menangani kasus loss to follow up (LTFU), serta memperluas akses layanan rehabilitasi sosial bagi ODHIV.

Dalam penanganan HIV, keberhasilan layanan tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat dan fasilitas kesehatan. ODHIV juga membutuhkan sistem dukungan yang terhubung, mulai dari pendampingan komunitas, dukungan psikososial, layanan sosial, hingga mekanisme rujukan yang jelas dan responsif.

Melalui workshop ini, Yayasan Lentera Surakarta mendorong agar layanan kesehatan, kelompok dukungan sebaya, LSM pendamping, dan layanan rehabilitasi sosial dapat bekerja secara lebih terintegrasi. Kolaborasi tersebut menjadi penting untuk memastikan ODHIV tetap terhubung dengan layanan, mendapatkan dukungan yang sesuai, dan tidak menghadapi proses pengobatan sendirian.

Menjawab Tantangan LTFU dan Kepatuhan Pengobatan ARV

Salah satu isu utama yang dibahas dalam kegiatan ini adalah penanganan kasus loss to follow up (LTFU). LTFU terjadi ketika ODHIV tidak lagi melanjutkan pemeriksaan, kunjungan layanan, atau pengobatan ARV sesuai jadwal yang dianjurkan. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan individu dan menghambat keberhasilan program penanggulangan HIV.

Karena itu, peningkatan kepatuhan pengobatan ARV membutuhkan pendekatan yang tidak hanya medis, tetapi juga sosial dan psikologis. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi keberlanjutan terapi, mulai dari stigma, keterbatasan ekonomi, dukungan keluarga, jarak layanan, kondisi mental, hingga rasa takut untuk kembali mengakses layanan kesehatan.

Workshop ini menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi ODHIV. Dengan adanya dukungan dari tenaga kesehatan, kelompok dukungan sebaya, LSM pendamping, dan layanan rehabilitasi sosial, ODHIV diharapkan dapat memperoleh bantuan yang lebih komprehensif untuk menjaga kepatuhan terapi dan kualitas hidup.

Materi dari AHF, Layanan Kesehatan, dan Rehabilitasi Sosial

Dalam kegiatan ini, peserta memperoleh pemaparan dari berbagai narasumber, antara lain AHF Indonesia, Dinas Kesehatan Kota Surakarta, RSUD Dr. Moewardi, dan Sentra Terpadu Prof. Soeharso. Materi yang disampaikan mencakup sistem pelayanan HIV, mekanisme pendampingan, penguatan rujukan layanan, serta dukungan rehabilitasi sosial bagi ODHIV.

Melalui pemaparan tersebut, peserta diajak memahami bahwa penanganan HIV memerlukan kerja bersama yang saling melengkapi. Layanan kesehatan berperan dalam pemeriksaan, pengobatan, pemantauan medis, dan konseling. Kelompok dukungan sebaya dan LSM pendamping berperan membantu ODHIV membangun kepercayaan, mengakses informasi, dan menjaga keberlanjutan terapi. Sementara itu, layanan rehabilitasi sosial dapat mendukung pemulihan fungsi sosial, perlindungan, serta mitigasi dampak sosial ekonomi yang mungkin dialami ODHIV.

Integrasi Layanan untuk Mencapai Ending AIDS 2030

Pimpinan Yayasan Lentera Surakarta, Yunus Prasetyo, menekankan pentingnya integrasi antara layanan kesehatan dan dukungan sosial dalam penanganan HIV. Menurutnya, upaya mencapai target Ending AIDS 2030 membutuhkan sistem layanan yang tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dan mampu menjawab kebutuhan ODHIV secara lebih utuh.

Integrasi layanan menjadi kunci agar ODHIV tidak hanya mendapatkan akses pengobatan, tetapi juga dukungan sosial, psikologis, dan rehabilitasi yang diperlukan untuk menjalani hidup dengan lebih sehat dan bermartabat. Pendekatan ini juga penting untuk mengurangi stigma dan diskriminasi yang masih menjadi hambatan besar dalam upaya pencegahan dan penanganan HIV.

Yayasan Lentera menyelenggarakan kegiatan sosialisasi

Membangun Jejaring Rujukan yang Lebih Kuat

Melalui sesi diskusi dan pertukaran pengalaman, para peserta membangun kesepahaman mengenai mekanisme kolaborasi penanganan HIV di Kota Surakarta dan sekitarnya. Workshop ini juga memperkuat jejaring rujukan layanan agar setiap pihak memahami peran masing-masing dalam mendukung ODHIV.

Jejaring rujukan yang kuat dibutuhkan agar ODHIV dapat memperoleh layanan yang tepat sesuai kebutuhannya, baik layanan kesehatan, dukungan psikososial, bantuan sosial, maupun rehabilitasi sosial. Dengan koordinasi yang lebih baik, penanganan kasus LTFU dapat dilakukan secara lebih cepat, terarah, dan manusiawi.

Kolaborasi untuk Layanan HIV yang Bebas Stigma

Workshop Linkage Dukungan Mitigasi Dampak bagi ODHIV ini menjadi bagian dari upaya Yayasan Lentera Surakarta untuk memperkuat ekosistem layanan HIV yang inklusif, berkelanjutan, dan bebas stigma. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu menurunkan angka LTFU, memperluas akses layanan, serta meningkatkan kualitas hidup ODHIV.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, layanan kesehatan, komunitas, organisasi masyarakat sipil, kelompok dukungan sebaya, dan layanan rehabilitasi sosial, penanganan HIV dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. ODHIV berhak mendapatkan layanan yang aman, pendampingan yang berkelanjutan, serta ruang sosial yang menghormati martabat dan hak hidup mereka.

Yayasan Lentera Surakarta bersama AHF Indonesia berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah penting dalam memperkuat kerja bersama menuju layanan HIV yang lebih terhubung, lebih peduli, dan lebih berdampak bagi masyarakat.