Kegiatan

KDS Solo Raya Diperkuat, Yayasan Lentera Dorong Pendampingan ODHIV yang Berkelanjutan

26 Juni 2026
Putri Rakhmadhani
6 menit baca
Kegiatan Penguatan Kelompok Dukungan Sebaya ODHIV Solo Raya
Surakarta, 26 Juni 2026 — Pendampingan Orang dengan HIV atau ODHIV tidak cukup hanya bergantung pada layanan medis. Di lapangan, keberlanjutan pengobatan juga membutuhkan dukungan sebaya, jejaring sosial, akses rehabilitasi sosial, serta komunitas yang mampu hadir dekat dengan kehidupan ODHIV.

Semangat itulah yang mengemuka dalam kegiatan Penguatan Kelompok Dukungan Sebaya Orang dengan HIV AIDS yang diselenggarakan Yayasan Lentera Surakarta di MAHALAYA: The Legacy Hotel, Surakarta, Jumat, 26 Juni 2026.

Kegiatan ini mempertemukan perwakilan Kelompok Dukungan Sebaya atau KDS dari berbagai wilayah Solo Raya, fasilitator, serta tim Yayasan Lentera Surakarta. Sebanyak 25 peserta hadir, berasal dari KDS Solo Plus Kota Surakarta, Gajah Mungkur Wonogiri, Yasema Sukoharjo, Sukowati Sragen, Karanganyar Peduli, Mekarwangi Klaten, Merbabu Boyolali, fasilitator, dan staf Yayasan Lentera.

Perwakilan KDS dari berbagai wilayah Solo Raya mengikuti kegiatan penguatan

Menguatkan KDS, Menjaga Keberlanjutan Pendampingan

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat dukungan terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral atau ARV melalui linkage layanan kesehatan dan layanan rehabilitasi sosial. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, dan jejaring antara KDS, fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, serta layanan rehabilitasi sosial.

Isu Lost to Follow Up atau LFU menjadi salah satu perhatian utama dalam forum ini. LFU terjadi ketika ODHIV tidak lagi melanjutkan akses layanan, pemeriksaan, atau pengobatan sesuai jadwal yang dianjurkan. Dalam banyak kasus, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ada faktor perpindahan wilayah, kondisi kesehatan, persoalan ekonomi, stigma, kehilangan pekerjaan, hingga keterbatasan dukungan keluarga.

Karena itu, peran KDS menjadi penting. KDS bukan hanya ruang berbagi pengalaman, tetapi juga jembatan yang membantu ODHIV tetap terhubung dengan layanan kesehatan, pendampingan psikososial, serta dukungan sosial yang dibutuhkan.

Yunus Prasetyo: KDS Harus Menjadi Kekuatan yang Berkelanjutan

Dalam sambutannya, Ir. Yunus Prasetyo, Direktur Yayasan Lentera Surakarta, menekankan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai forum pertemuan atau silaturahmi antarkelompok. Lebih jauh, kegiatan ini perlu menjadi momentum untuk membangun kembali kekuatan dan kemandirian KDS di wilayah Solo Raya.

Menurut Yunus, KDS perlu dipersiapkan agar mampu menjalankan fungsi pendampingan secara berkelanjutan, bahkan ketika dukungan program atau pendanaan eksternal tidak lagi tersedia. Karena itu, setiap KDS perlu memiliki organisasi yang jelas, legalitas, kepengurusan, serta program kerja yang kuat agar dapat membangun kemitraan dengan pemerintah daerah.

“Jangan sampai teman-teman terkotak-kotak. Mari mulai menyiapkan masing-masing KDS untuk merapatkan barisan lagi,” pesan Yunus dalam kegiatan tersebut.

Ia juga menegaskan pentingnya membangun jejaring antardaerah. Kekuatan komunitas, menurutnya, tidak boleh hanya bergantung pada pertemuan yang dibiayai program. Justru, kekuatan KDS terletak pada kemampuannya untuk tetap bergerak, saling mendukung, dan menjaga keberlanjutan pendampingan secara mandiri.

Menuju 2030, Pendampingan Tidak Boleh Berhenti

Dalam arahannya, Yunus juga menyoroti pentingnya mempersiapkan keberlanjutan pendampingan menuju tahun 2030. Ketika berbagai program global atau dukungan eksternal berakhir, kebutuhan pendampingan ODHIV akan tetap ada.

Karena itu, KDS didorong untuk mulai membangun kedekatan dan kerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota. Dengan organisasi yang lebih kuat, KDS dapat mengajukan program, membangun kemitraan, dan mendorong agar pendampingan ODHIV menjadi bagian dari kebijakan serta penganggaran daerah.

“Yang utama adalah organisasi harus jelas, legalitas jelas, pengurusnya ada, program kerjanya ada. Tinggal kita maju ke pemerintah kota atau kabupaten,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Yunus.

Ia juga mengingatkan bahwa ada peran penting yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh pemerintah, terutama dalam konseling sebaya. Pengalaman hidup, kedekatan emosional, dan rasa saling memahami menjadi kekuatan KDS dalam mendampingi ODHIV dengan cara yang lebih manusiawi.

Membangun Linkage Layanan Kesehatan dan Rehabilitasi Sosial

Selain penguatan organisasi KDS, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso untuk membahas peluang layanan rehabilitasi sosial bagi ODHIV.

Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial atau ATENSI yang dapat diberikan berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan penerima manfaat. Dukungan tidak hanya terbatas pada bantuan nutrisi atau kebutuhan dasar, tetapi juga dapat mencakup pelatihan keterampilan, alat kerja, bantuan usaha, kebutuhan tempat tinggal sementara, maupun bentuk dukungan lain sesuai kondisi penerima manfaat.

Pendekatan bottom-up turut ditekankan. Kebutuhan ODHIV perlu terlebih dahulu diidentifikasi oleh pendamping bersama penerima manfaat. Setelah itu, kebutuhan tersebut dapat disusun menjadi usulan yang diajukan kepada layanan rehabilitasi sosial agar bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran dan menjawab persoalan nyata di lapangan.

Narasumber Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso membahas layanan rehabilitasi sosial ATENSI

Membuka Akses Penanganan Kasus Mendesak

Diskusi juga membahas mekanisme Respon Kasus sebagai salah satu jalur yang dapat dimanfaatkan ketika terdapat ODHIV dengan kondisi sosial mendesak, seperti kehilangan tempat tinggal, tidak memiliki dukungan keluarga, atau membutuhkan penanganan segera.

Peserta juga memperoleh informasi mengenai Hotline Kemensos 171 sebagai salah satu jalur pelaporan kasus yang dapat diteruskan kepada Sentra terdekat untuk dilakukan asesmen dan penanganan.

Informasi ini penting bagi pendamping KDS karena persoalan yang dihadapi ODHIV sering kali saling berkaitan. Masalah kesehatan dapat berkelindan dengan ekonomi, tempat tinggal, pekerjaan, relasi keluarga, hingga stigma sosial. Karena itu, pendamping membutuhkan akses informasi dan jejaring layanan yang kuat agar dapat membantu ODHIV secara lebih cepat dan tepat.

Dari Konsolidasi Menuju Kolaborasi

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui paparan, diskusi, serta berbagi pengalaman antar-KDS. Berbagai cerita lapangan yang disampaikan peserta memperlihatkan bahwa keberlanjutan pengobatan ODHIV membutuhkan dukungan yang komprehensif.

Antar-KDS berbagi pengalaman dan berdiskusi selama kegiatan

Penguatan kolaborasi antara KDS, Yayasan Lentera Surakarta, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, KPA, fasilitas kesehatan, dan Sentra Terpadu menjadi bagian penting dari tindak lanjut kegiatan. Peserta juga didorong untuk mengaktifkan kembali jejaring KDS di Solo Raya sebagai ruang koordinasi, pertukaran informasi, dan penyusunan program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendampingan ODHIV tidak hanya diukur dari tersedianya layanan kesehatan, tetapi juga dari kemampuan berbagai pihak untuk memastikan ODHIV memperoleh dukungan sosial, ekonomi, psikososial, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Yayasan Lentera Surakarta berkomitmen untuk terus memperkuat jejaring dan kapasitas Kelompok Dukungan Sebaya agar komunitas tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam keberlanjutan pendampingan ODHIV di wilayah Solo Raya.